6 Tanda Kehamilan Berisiko yang Perlu Diwaspadai Ibu Hamil di Depok

Kehamilan yang awalnya berjalan lancar tetap dapat berubah menjadi kehamilan berisiko apabila tanda bahaya terlambat dikenali. Kementerian Kesehatan mencatat 571 kematian ibu di Jawa Barat pada 2022, dengan hipertensi dalam kehamilan (146 kasus) dan perdarahan (131 kasus) sebagai dua penyebab spesifik terbanyak.

Kedua kondisi tersebut dapat diawali gejala yang termasuk dalam enam tanda bahaya kehamilan versi Kemenkes. Ibu hamil di Depok perlu mengenali tanda-tanda itu dan dapat memeriksakan diri ke RSU Bunda Margonda. Berikut pejelasannya.

Tanda Kehamilan Berisiko yang Perlu Diwaspadai Ibu Hamil

1. Demam Tinggi yang Dapat Menandakan Infeksi

Demam tinggi menjadi tanda bahaya pertama yang perlu diperhatikan, meskipun keluhan ini kerap dianggap ringan. Laman Ayo Sehat Kemenkes mengaitkan demam pada ibu hamil dengan kemungkinan infeksi, sehingga suhu tubuh yang terlalu tinggi menjadi alasan untuk segera mendatangi rumah sakit. Buku KIA 2024 juga mencantumkan demam tinggi sebagai tanda bahaya pada trimester pertama dan kedua.

Lamanya demam dapat membantu Anda menentukan kapan perlu mencari pertolongan. Dalam Buku KIA 2024, demam yang bertahan lebih dari dua hari termasuk kondisi yang dipantau setiap minggu dan menjadi tanda untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan. Ibu memantau kondisi ini sendiri dengan memberi tanda centang pada kondisi yang dialami, dan pencatatan tersebut dimulai sejak minggu ke-4 kehamilan.

2. Muntah Hebat yang Membuat Ibu Enggan Makan

Mual dan muntah lazim terjadi pada awal kehamilan, sehingga penting untuk mengenali perubahan polanya. Keluhan biasanya mulai muncul sekitar minggu ke-5 dan mencapai titik terberat sekitar minggu ke-9. Dengan memperhatikan pola ini, Anda dapat membedakan keluhan umum dari tanda bahaya yang perlu diperiksa.

Muntah perlu diwaspadai ketika berlangsung terus-menerus dan berlebihan hingga ibu tidak mau makan. Muntah berlebihan dapat menguras cadangan cairan dan zat gizi tubuh ibu, dan Ayo Sehat menyebut dampaknya berupa kekurangan gizi, dehidrasi, dan penurunan kesadaran. Pada hiperemesis gravidarum, tubuh yang kekurangan asupan mulai memecah lemak sehingga terjadi ketosis.

Baca Juga :  Cara Mengatasi Rambut Rontok dan Ketombe secara Alami

Proses pemecahan lemak itu dapat memicu kelelahan, bau mulut, dan pusing. Karena itu, muntah yang membuat ibu enggan makan sebaiknya tidak diabaikan.

3. Gerakan Janin Berkurang Setelah Usia Kehamilan 24 Minggu

Menurut Buku KIA 2024, setelah minggu ke-24, janin yang tidak bergerak atau bergerak kurang dari 10 kali dalam 12 jam perlu segera diperiksakan. Gerakan janin merupakan petunjuk yang dapat Anda pantau sendiri setiap hari. Perubahan gerakan, termasuk berkurang atau berhenti, dapat menandakan janin kekurangan oksigen atau gizi.

Karena itu, mengenali pola gerak janin membantu ibu mengetahui kapan perlu meminta evaluasi tenaga kesehatan. Ketika pola gerakan berubah, segera hubungi tenaga kesehatan dan jangan menunggu hingga keesokan hari, meskipun perubahan terjadi pada tengah malam.

Doppler rumahan tidak dapat diandalkan untuk memastikan kondisi janin, sebab detak jantung yang terdengar tidak menjamin janin dalam keadaan sehat. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan agar perubahan tersebut dapat dievaluasi.

4. Bengkak di Wajah dan Tangan sebagai Sinyal Preeklamsia

Bengkak di wajah dan tangan yang meningkat mendadak dapat mengarah pada preeklamsia, terlebih bila disertai pusing, nyeri ulu hati, kejang, atau pandangan kabur. Bengkak dapat muncul seiring bertambahnya berat badan selama hamil, tetapi lokasi dan perubahannya perlu diperhatikan.

Preeklamsia perlu diwaspadai karena berhubungan dengan tekanan darah ibu. PNPK tersebut mendefinisikan hipertensi dalam kehamilan sebagai tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih pada dua kali pengukuran dengan jarak 15 menit. Preeklamsia berarti hipertensi setelah usia kehamilan 20 minggu yang disertai proteinuria atau tanda gangguan organ.

Risiko tergolong tinggi bila ibu memiliki satu faktor risiko tinggi, seperti riwayat preeklamsia atau kehamilan kembar. Risiko juga tergolong tinggi bila ibu memiliki dua faktor risiko sedang, seperti usia 35 tahun ke atas, kehamilan pertama, dan kehamilan melalui program bayi tabung.

Baca Juga :  Bisakah HP Tersambar Petir Saat Hujan Deras? Ini Penjelasannya!

5. Perdarahan dari Jalan Lahir di Usia Kehamilan Muda maupun Tua

Perdarahan selama hamil, baik sedikit maupun banyak, membutuhkan evaluasi dokter. Menurut Ayo Sehat, perdarahan hebat pada usia kehamilan muda dapat menjadi tanda keguguran, sedangkan perdarahan pada usia kehamilan tua dapat menandakan plasenta menutupi jalan lahir. Buku KIA 2024 juga mencantumkan perdarahan sebagai tanda bahaya trimester pertama dan perdarahan hebat sebagai tanda bahaya trimester ketiga.

Plasenta yang menutupi jalan lahir disebut plasenta previa, dan Keslan Kemenkes menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi ketika plasenta berada di bagian bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Perdarahan akibat plasenta previa umumnya muncul pada trimester kedua hingga ketiga. Ciri yang disebutkan meliputi darah berwarna merah segar, tidak disertai rasa nyeri, dan dapat terjadi berulang.

6. Ketuban Pecah Sebelum Waktunya

Pecahnya air ketuban sebelum persalinan tiba merupakan tanda bahaya keenam. Keslan Kemenkes menyebutnya ketuban pecah dini, yaitu keadaan ketika ketuban sudah pecah padahal persalinan belum berlangsung atau usia kandungan belum genap 37 minggu.

Cairan ketuban dapat dikenali dari bau amis, berbeda dengan urine yang berbau pesing. Warnanya jernih dan dapat terus keluar. Buku KIA 2024 memasukkan kondisi ketuban pecah tetapi belum ada kontraksi sebagai tanda bahaya trimester ketiga.

Ketuban yang pecah lebih awal dapat membuka jalan bagi gangguan pada ibu dan janin. Keadaan ini mempermudah terjadinya infeksi di dalam kandungan dan dapat menjadi pertanda persalinan prematur. Karena itu, cairan yang diduga air ketuban perlu segera mendapat perhatian tenaga kesehatan.

Rekomendasi Pemeriksaan Kehamilan Berisiko di RSU Bunda Margonda Depok

Enam tanda bahaya yang membutuhkan evaluasi medis segera mencakup demam tinggi, muntah hebat, gerakan janin berkurang, bengkak, perdarahan, dan ketuban pecah terlalu dini. Mengenali tanda tersebut membantu Anda bergerak cepat ketika muncul keluhan. Penanganan lebih dini dapat membantu mengatasi risiko preeklamsia maupun perdarahan sebelum membahayakan ibu dan janin.

Baca Juga :  Strategi Efektif dalam Permainan Free Fire

Ibu yang mengenali tanda bahaya kehamilan sejak awal dapat membawa keluhannya ke RSU Bunda Margonda untuk pemeriksaan. Rumah sakit ini berada di Jl. Margonda No.28, Pondok Cina, Kecamatan Beji, dan melayani persalinan, perawatan anak, serta program bayi tabung.

RSU Bunda Margonda menaungi Women’s Health Center untuk kesehatan perempuan dan Pediatric Health Center untuk anak. Di tingkat RS Bunda Group, layanan Women’s Health Center mencakup perawatan antenatal komprehensif serta diagnostik fetomaternal dengan USG GE Voluson E22 untuk memantau perkembangan janin dan kesehatan ibu.

Untuk pemeriksaan kehamilan berisiko, RSU Bunda Margonda menyediakan USG 2D/3D/4D yang menampilkan kondisi organ dan janin secara rinci dan real-time. Apabila tanda bahaya muncul pada malam hari atau akhir pekan, IGD rumah sakit tetap siaga 24 jam setiap hari. Layanan ini dapat menjadi pilihan bagi ibu yang membutuhkan pemeriksaan ketika keluhan muncul di luar jam biasa.

Booking Dokter Sekarang untuk Konsultasi Kehamilan di RSU Bunda Margonda

Konsultasikan kehamilan Anda dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan sebelum keluhan Anda bertambah berat. Anda dapat mengecek jadwal dokter spesialis serta melakukan booking janji temu secara langsung melalui situs web bunda.co.id maupun aplikasi OneBunda. Jika Anda membutuhkan panduan pendaftaran atau informasi layanan medis lebih lanjut, silakan hubungi Call Center RS Bunda di nomor 1-500-799.

Tinggalkan komentar