Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi 5 Penyakit Umum Menurut Dokter

Sejumlah keluhan kesehatan keluarga berasal dari penyakit umum yang gejalanya dapat Anda kenali sejak awal. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kemenkes, sebanyak 23,5% penduduk mengalami ISPA dalam sebulan terakhir, sedangkan hipertensi terukur pada 29,2% penduduk berusia 15 tahun ke atas.

Bersama DBD, dispepsia, dan diare akut, kelima penyakit ini perlu dipahami penyebab serta penanganannya melalui Health Guides RS Bunda. Memahami gejala awal membantu Anda memberikan perawatan mandiri yang tepat sekaligus mengetahui saat yang sesuai untuk berkonsultasi ke dokter.

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi 5 Penyakit Umum

1. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)

ISPA mencatat kejadian tertinggi di antara penyakit menular yang dipantau SKI 2023, dengan prevalensi balita mencapai 34,2%. Penyakit ini umumnya disebabkan virus, walau bakteri atau kombinasi keduanya dapat menjadi pemicu. Penularan terjadi lewat percikan ludah saat batuk, bersin, atau berbicara, serta kontak tangan terkontaminasi. Gejalanya meliputi demam, batuk kurang dari dua minggu, pilek, dan sakit tenggorokan.

Sebagian besar ISPA ringan bisa Anda rawat di rumah dengan istirahat, cairan cukup, dan madu untuk meredakan batuk bagi dewasa serta anak di atas satu tahun. Antibiotik tidak bermanfaat karena pemicu utamanya adalah virus. Namun, periksakan ke dokter bila muncul napas cepat atau sesak, dehidrasi, demam lebih dari empat hari, gejala melampaui 10 hari tanpa perbaikan, atau bibir kebiruan.

2. Demam Berdarah Dengue (DBD)

DBD merupakan penyakit umum yang penularannya berkaitan erat dengan nyamuk di sekitar rumah. Penyakit ini disebabkan virus dengue dari gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejala muncul 4 sampai 10 hari pascainfeksi, meliputi demam tinggi hingga 40 derajat Celsius, sakit kepala berat, nyeri belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam.

Baca Juga :  Solusi AI Berbasis B2B untuk Manajemen Pelatihan Bahasa yang Lebih Efektif dari Prep Ed

Belum ada obat khusus untuk virus dengue, sehingga penanganan DBD berfokus pada perawatan suportif dan pemantauan. WHO menganjurkan istirahat, cairan cukup, dan parasetamol untuk meredakan nyeri, sementara ibuprofen dan aspirin wajib dihindari karena meningkatkan risiko perdarahan.

3. Dispepsia atau Sakit Maag

Dispepsia atau sakit maag adalah gangguan lambung berupa rasa tidak nyaman di perut atas, kembung, mual, terbakar di ulu hati, cepat kenyang, dan sering bersendawa. Pemicunya meliputi pola makan tidak teratur, infeksi bakteri Helicobacter pylori, tukak lambung, penggunaan obat antinyeri OAINS, atau dispepsia fungsional akibat gangguan interaksi usus dan otak.

Penanganan dispepsia disesuaikan dengan penyebab dari dokter, mulai dari perbaikan pola makan hingga obat penurun asam lambung seperti H2 blocker atau proton pump inhibitor (PPI). Antibiotik diberikan bila ada infeksi H. pylori, atau obat pemicu diganti.

4. Diare Akut

Diare akut ditandai dengan buang air besar bertinja lembek atau cair lebih dari tiga kali sehari. Penyebab umumnya adalah infeksi bakteri, virus, atau parasit dari air dan makanan tercemar serta kebersihan tangan yang kurang. Alergi, gangguan penyerapan usus, dan keracunan juga dapat memicu diare. SKI 2023 mencatat prevalensi diare pada balita mencapai 7,4%, lebih tinggi dibanding angka semua umur sebesar 4,3%.

Penanganan diare akut berpusat pada pencegahan dehidrasi melalui panduan LINTAS Diare Kemenkes. Panduan ini mencakup pemberian oralit, suplemen zinc selama 10 hari berturut-turut, ASI dan makanan sesuai usia, serta antibiotik khusus untuk diare berdarah atau kolera. Jadi, segera periksakan ke fasilitas kesehatan bila muncul demam, tinja berdarah, muntah berulang, mata cekung, mulut kering, atau diare tidak membaik dalam tiga hari.

Baca Juga :  Strategi Efektif Merancang RJPP yang Tangguh dan Berkelanjutan

5. Hipertensi

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang sering tidak disadari penderitanya. Seseorang dinyatakan hipertensi bila tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih dan/atau diastolik 90 mmHg atau lebih. SKI 2023 menemukan 29,2% penduduk berusia 15 tahun ke atas memenuhi kriteria tersebut, tetapi hanya 8,0% yang pernah didiagnosis dokter.

Pengendalian hipertensi memerlukan perubahan gaya hidup dan pengobatan jangka panjang. WHO menganjurkan diet rendah garam, penurunan berat badan, aktivitas fisik rutin, berhenti merokok, serta konsumsi obat antihipertensi dari dokter.

Kapan Perlu Konsultasi ke Poliklinik Spesialis RS Bunda

Mendapatkan penanganan medis tepat waktu bersama dokter spesialis anak maupun penyakit dalam sangat penting agar kondisi kesehatan anggota keluarga senantiasa terpantau secara optimal di RS Bunda. Anda dapat mengecek jadwal dokter spesialis serta melakukan booking janji temu secara langsung melalui situs web bunda.co.id maupun aplikasi OneBunda. Jika Anda membutuhkan panduan pendaftaran atau informasi layanan medis lebih lanjut, silakan hubungi Call Center RS Bunda di nomor 1-500-799 atau langsung menuju UGD 24 Jam RS Bunda Group untuk penanganan situasi darurat.

Tinggalkan komentar